25 Agt 2016

Bunga Penutup Abad

Pertunjukan Bunga Penutup Abad garapan Wawan Sofwan, diadaptasi dari buku tetrologi karya Parmoedya Ananta Toer. Saya merupakan salah satu pengemar dari karya tulisan bapak Pram, sudah lama saya membaca novel beliau tentang Bumi Indonesia dan Anak Semua Bangsa. Betapa senangnya saya saat tau bahwa buku tersebut akan dipentaskan.



Bunga Penutup Abad adalah sebuah pertunjukan seni peran yang diselenggarakan oleh Titimangsa Foundation bekerjasama dengan Yayasan Titian Penerus Bangsa. Pertunjukan tersebut digelar dalam rangka memperingati 10 tahun meninggalnya sang penulis. Pertunjukan teater tersebut diperankan oleh Happy Salma sebagai Nyai Ontosoroh, Reza Rahadian sebagai Minke, Chelsea Islan sebagai Annelies, Lukman Sardi sebagai Jean Marais dan aktor baru Sabia Arifin sebagai May Marais.

Bunga Penutup abad ini berkisah tentang kehidupan Nyai Ontosoroh dan Minke setelah kepergian dari Annelies ke Belanda. Sang Nyai yang khawatir mengenai keberadaan Annelies, lalu mengutus seorang pegawainya bernama Panji Darman untuk memantau kemanapun Annelies pergi. Surat demi surat yang diterima oleh Nyai Ontosoroh dan Minke membuka kembali pintu nostalgia mereka. Akhir cerita bahwa Minke dan Nyai Ontosoroh menerima kabar bahwa Annelies meninggal di Belanda. Minke yang cukup terpukul akan berita tersebut meminta ijin kepada Nyai untuk pergi ke Batavia melanjutkan sekolah menjadi dokter. Minke membawa lukisan potret Annelies ke Batavia bersamanya, lukisan tersebut diberi nama Bunga Penutup Abad.






Dari pertunjukan tersebut sukses membawa kembali kerinduan saya akan tulisan bapak Pram, peran Nyai Ontosoroh juga diperankan sangat baik oleh Happy Salma. Karakternya sebagai seorang nyai didukung oleh akting, blocking, gesture, wardrobe dan makeup dari Sariayu. Menurut saya, perpaduan kelima hal tersebut turut mengambil peran penting dalam menghidupkan karakternya sebagai Nyai Ontosoroh. Oh ya, keterlibatan Sariayu, sebuah kosmetik lokal Indonesia yang berada di bawah bendera Martha Tilaar Group, pada penampilan ini ternyata tidak lepas dari upayanya dalam mengapresiasi karya anak bangsa serta pelestarian seni teater Indonesia  agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda dapat lebih memaknai pertunjukan teater sebagai sebuah karya seni, lho. Hmm, nice.

See you...
Hira

14 Mei 2015

Nilai Luhur Jiwa Indonesia di Pulau Seram

Tidak bosan bagi saya menceritakan tentang keseruan liburan saya di Maluku tetaptnya dimulai dari salah satu Desa di Pulau Seram bagian Utara. Desa Sawai yang terletak di Pulau Seram ini sangat terkenal dengan kerukunan umat beragamanya. Saat Maluku sempat terjadi kerusuhan di Desa Sawai inilah semua keadaan tetap damai, utuh dan bersatu antar umat beragama yang berada keyakinan. 

Kerukunan tersebut dapat dilihat hingga sekarang saat mereka melakukan aktifitas sehari-hari seperti mandi dan mencuci bersamaan di satu mata air yang konon mata air tersebut tidak kan pernah habis walau musim kemarau datang.
Aktifitas keseharian yang dilakukan bersama-sama

Rumah Penduduk Lokal Desa Sawai

Setelah jalan-jalan sejenak di Desa Sawai kami melakukan perjalanan kembali ke Kelinanti dan kami di pertemukan oleh Bapak Alwi yang menjadi pemandu kami melihat indahnya Pulau Seram dari ketinggian.
Di Kelinanti sendiri merupakan tempat keseharian Pak Alwi mencari nafkah. Setiap harinya beliau melewati medan terjal tersebut untuk mengambil hasil ladangnya. Selama perjalanan melakukan trecking sekitar 45 menit dengan curamnya medan yang kami lalui tanpa adanya pengaman bagi para pendaki, disitu kami belajar betapa kuat kegigihan mereka untuk mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Puas adalah rasa yang menggambarkan perasaan saya saat melihat indahnya pemandangan Pulau seram dari ketinggian.



Ekspresi Bahagia Saat Mencapai Puncak Kelinanti

Sesampainya dipuncak kami berhenti di sebuah pendopo kayu buatan Pak Alwi, biasanya tempat tersebut adalah tempat untuk beliau sejenak beristirahat setelah bekerja. Tak sampai disitu kami diikatkan oleh bandana merah yang konon cerita dari pak Alwi itu merupakan tanda agar dikenang.

Pak alwi mengikatkan Bandana dikelapa saya

Pak Alwi, bercerita tentang lagenda yang ada di Desa, selain itu mereka juga menceritakan tentang nilai para leluhurnya untuk bergotong royong. Ya dalam hal bergotong royong, ini merupakan budaya besar sebagian besar masyarat di Indonesia termasuk yang ada di Pulau Seram sendiri. Budaya gotong royong tersebut biasanya mereka lakukan dalam hal pembuatan fasilitas umum, membangun rumah, serta mereka saling bahu membahu dalam menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan bersama. Hal tersebut kadang dilakukan secara rutin oleh penduduk Desa. Itulah yang membuat Desa tersebut menjadi Desa yang terkenal dengan kerukunan, sungguh Mahakarya Indonesia yang menjadi nilai luhur tertanam dalam jiwa Indonesia.


"Awesome things to know when you travel, explore yourself and learn more about the cultures of different place"


13 Mei 2015

Teman Baru di Perjalanan



Senang rasanya melihat tanggalan bulan Mei ini. Begitu banyak tanggalan merah di weekend, seketika juga rencana perjalanpun saya buat demi memuaskan hobi jalan jalan dan hobi foto.

Yang saya rasa bahwa saya bukanlah tipikal orang yang bisa berdiam diri di rumah melihat banyaknya waktu kosong, terlebih lagi karena saya harus pintar membagi aktifitas antara kuliah, pekerjaan dan hobi saya.  Tuntutan selalu ingin aktif dalam berbagai hal tersebutlah yang membuat saya merasa perlu memiliki asupan kesegaran yang mudah di bawa kemana mana dan dapat bisa membuat saya kembali bersemangat melakukan aktivitas saya sehari sehari. Mungkin saya yang disebut dengan Generasi C. Apa sih Gen C itu? Gen C adalah anak muda masa kini dengan ciri khas connected, creative, communicating, content-centric, computerized, community-oriented, always clicking and creative change.

Saat saya sedang mengisi waktu diweekend saya yang kosong jadwal kuliah, saya menyempatkan diri merefresh pikiran saya untuk jalan – jalan ke tempat baru di sekitar Jakarta. Di perjalanan tersebutlah saya dipertukan dengan teman baru yang saya rasa cocok untuk bisa terus menjadi teman perjalanan saya kedepannya. Perkenalan tersebut terjadi ketika saya mampir di minimarket dan ingin membeli minuman, ternyata ada minuman baru namanya Hemaviton Tea Blazt. Tanpa pikir panjang saya beli minuman tersebut. Segar dan dapat mengembalikan semangat itu opini pertama saya saat merasakannya. Awalnya saya mengira minuman teh energi itu hanya cocok untuk supir bus antar kota yang memerkukan energi menempuh perjalanan panjang. Tapi ternyata, saya sendiripun butuh minuman teh berenergi. Hemavition Tea Blazt ini cocok buat saya karena saya merupakan penyuka teh. Semakin penasaranpun saya mencari tahu apa yang ada dalam kandungan Tea Blazt. Tea Blazt mengandung ekstrak black tea, Vitamin C dan gingseng untuk mengembalikan semangat untuk menjalankan aktivitas. Sebagai orang Asia, umumnya pasti sudah terbiasa dengan khasiat Black tea yang membantu kita melawan perubahan cuaca saat melakukan  travelling ke daerah-daerah yang memiliki iklim yang berbeda dengan daerah asal kita yang tinggal negara tropis, selain itu  black tea mampu mengurangi stress, serta dapat melawan kolesterol tinggi akibat mencoba makan-makanan dari daerah setempat saat travelling.

Sumber: Facebook Tea Blazt


Sebagai penyuka jalan-jalan saya menceritakan pengalaman ini agar teman-teman yang lain juga bisa menjadikan Tea Blazt sebagai teman baru di perjalanan karena kahasiatnya.

 Sumber: Facebook Tea Blazt 


"Best friends on the road!"



17 Mei 2014

Cantiknya Maluku


1,5 Tahun lalu saya memasang DP BBM sebuah resort indah dengan tebing dan laut disekitarnya, tanpa entah tau itu dimana dan tanpa mencari tahu lokasi tersebut, sampai suatu ketika teman saya bertanya. “Hira, itu ora beach?”.  Tanpa menjawab pertanyaan tersebut saya googling lokasi tersebut dan ya ternyata benar. Belum ada ketertarikan luar biasa untuk mengunjungi lokasi tersebut. Kemudian saya berkenalan dengan seorang traveler dan juga fotografer, dia mengirimkan saya foto-foto indah di Maluku. Sampai suatu ketika saya bertemu tante saya, saya bilang bahwa saya mau ke Maluku. Ternyata kita punya tujuan lokasi wisata yang sama. Dari sanalah kami memulai perjalanan ini, dengan membeli tiket PP Jakarta-Ambon dengan transit di Makassar. 

Dengan perjalanan kurang lebih 4 jam dan 2 jam perbedaan waktu dengan Jakarta. Sampailah kami di Ambon. Dihari pertama setibanya kami di Bandara Patimura kami dijemput oleh supir yang telah kami carter untuk menuju ke rumah bosnya sahabat saya yang kebetulan warga negara asing yang juga jatuh cinta dengan Maluku. Lokasi rumahnya berada di selatan Kota ambon, tidak terlalu jauh dari kota tetapi pemandangan indah, suasa tenang dengan rumah yang teduh terasa sangat indah untuk dinikmati.
Persis di belakang rumah tersebut terdapat laut dengan karang yang membentuk kotak seperti kolam dengan air yang sangat jernih. Siapa yang tidak suka melihatnya, saya langsung memutuskan untuk saya mau berenang. Tanpa saya sadari saat saya berenang waktu sudah menunjukkan pukul 11 dan matahari bersinar dengan cukup teriknya. Kalau kita beruntung kita bisa melihat lumba-lumba dari belakang rumah tersebut.




Setelah asik berenang, kami melanjutkan perjalanan kami ke pintu kota, kami tidak langsung ke lokasi pintu kota tetapi supir kami saat itu mengajak kami ke atas tebing pintu kota. Pemandangan yang kami lihat adalah laut bagai tak berujung. Mendengar nama pintu kota, mungkin anda membayangkan sebuah tempat sebagai pintu masuk ke kota. Sebanarnya Pintu Kota adalah lokasi wisata pantai yang terletak antara Desa Airlow dan Desa Seri. Pintu Kota terbentuk dari tebing terjal batu karang, sebagian lubangnya tertutup air ketika pasang dan terbuka saat surut. Kebetulan saat kami kesana air sedang surut. Disinipun kita bisa menikmati pemandangan alam Laut Banda.



Lokasi yang juga menarik untuk di datangi di kota Ambon adalah Gong Perdamaian dan Patung Martha Christina Tiahahu setelah ke patung tersebut sempatkan waktu untuk menikmati pemandangan dari ketinggian kota Ambon di Café Panorama.



Selain Café Panorama, teman-teman bisa menikati kopi di Rumah Kopi Joas, konon katanya di tempat ini menjadi lokasi orang berkumpul untuk membahas bisnis dan politik. Rumah kopi merupakan ruang public tempat berinteraksi masyarakat Ambon. Sambil menikmati kopi di Rumah Kopi Joaspun juga dihidangkan Aneka kue khas Ambon seperti Gogos, Kasbi Tone, Porcis dan kue kecil lainnya.



Tujuan kami selanjutnya adalah Ora Beach, kami sudah di jemput Supir pukul 07.00 WIT menuju pelabuhan Tulehu untuk menyebrang menggunakan kapal cepat. Dengan kapal cepat untuk kelas VIP sekali jalan membayar sekitar Rp. 225.000 dengan menempuh kurang lebih 2 jam perjalanan. Semua paket perjalanan kami dari supir, naik kapal cepat hingga mobil di pulau seram semua adalah fasilitas dari Ora Beach Resort. Setibanya di Pelabuhan Amahai kami melanjutkan perjalanan lagi menuju Desa Sawai. Waktu yang ditempuh untuk menuju desa Sawai sekitar 2 jam perjalanan darat dengan pemandangan kanan kiri hutan dan berkelok kelok, tanpa ada rumah di sekeliling perjalanan. Setiba kami di sawai untuk menuju Ora Beach cukup menyebrang 5 Menit sampailah kami di tempat tujuan. Perasaan saya setiba disana senang sekali, yang awalnya saya cuma memasang foto Ora Beach Resort ternyata sampai juga dan melihat sendiri pemandangan indah ini. Melihat pantai bersih dengan ombak yang sangat tenang.
Makan pagi, makan siang dan makan malam semua dihidangkan oleh hotel. Di setikar hotel tidak ada penduduk dan tidak ada warung, untungnya kami sudah mempersiapkan makanan kecil untuk kita bawa sebagai makanan diperjalanan. Listrik hanya ada pada sore menjelang malam hari. Tidak banyak aktifitas yang saya lakukan di hari pertama di ora beach.















Esok paginya kami pergi menuju Desa sawai, didesa sawai ini terkenal dengan kerukunan umat beragamanya. Dewa Sawai memiliki panorama mempesona, menghadap teluk dangkal hingga laut lepas dan pohon kelapa dikejauhan. Bagian belakang Desa Sawai dinaungi oleh pegunungan dengan pohon tinggi berusia ratusan tahun yang tingginya mencapai 50 meter.






Tebing Batu Sawai, tebing dengan dinding vertical Sembilan puluh derajat ini terletak diantara Ora Beach Resort dan Desa Sawai. Di sekitar Tebing Batu Sawai ini penuh dengan area Snorkling yang bagus. Di dalam tebing ini konon terdapat goa dengan pasir putih di dalamnya dan di dalam goa ini terdapat sarang burung wallet. Goa tersebut hanya bisa dimasuki ketika air laut surut.  





Aer Belanda merupakan salah satu tempat unik yang saya kunjungi. Dinamakan Aer Belanda konon pada jaman penjajahan Belanda tempat ini pernah menjadi tempat persinggahan tentara Belanda. Mereka membangun camp dan memanfaatkan sumber air yang sangat jenih dari pegunungan dan airnya sangat dingin. Aer Belanda kata penduduk sekitar telah ada sejak tahun 1600-an. Dulu air ini mengalir dari bawah batu namun sekarang aliran tersebut sudah tertutup dan berganti arah. Untuk mencapai tempat ini hanya 10 menit menggunakan boat dari Desa Salemen.


Beratus tahun indonesia dijajah karena rempah rempah (salah satunya buah pala)






Jika Ora Beach Resort penuh, biasanya banyak turis yang juga memanfaatkan penginpan yang ada di Desa Sawai. Nama Penginapannya adalah Penginapan Lisar Bahari yang berada di persis pinggir desa Sawai.

Satu lokasi lagi yang kami kunjungi di sekitar Ora Beach Resort adalah Kelinanti, kami melakukan trecking sekitar 45 menit menuju puncak Kelinanti. Diatas kita bisa melihat pemandangan yang sangat indah. Sampai diatas kami dikaitkan oleh bandaa merah yang konon pak Alwi itu merupakan tanda agar dikenang. Pak Alwi dan Pak Koko pemandu kami jalan jalan, bercerita tentang lagenda yang ada di Desa Sawai, setiap sore menjelang magrib, keluar jutaan burung hitam mirip kelelawar, yang terbang beriringan menyerupai bentuk ular naga. Mereka keluar dari Goa besar di atas bukit, menuju arah laut lapas, dengan suara gemuruh iringan ini berlangsung sekitar 10-15 menit, lalu kembali ke dalam goa saat subuh. Para penduduk Saleman juga ada yang penasaran memasuki goa sedalam 25 meter itu untuk melihat apakah burung tersebut berada di dalamnya, tapi nyatanya goa tersebut kosong.

Selama 3 hari 2 malam di Ora Beach resort saya sangat menikmati duduk duduk santai di pinggir penginapan hanya sekedar melihat indahnya ikan ikan berwarna warni berenang dan saling berebut makanan.
Sekembalinya kami  ke Ambon kami mampir menuju Air Panas Hatuhasa. Di tempat ini terdapat beberapa sumber air panas dan kolam air tawar. Objek wisata Air Panas Hatuhasa terletak 3 km dari Pelabuhan Tulehu . Suhu panasnya gak usah ditanya panas banget, tapi sangat tidak berbau. Banyak pengunjung yang datang untuk mengobati penyakit. Tiket masuk ke tempat tersebut pun relative sangat murah hanya 5000 rupiah. 

Kembali ke Ambon kami menginap di The Natsepa Hotel, yang dulunya bernama Aston Natsepa. Yang terkenal di pantai Natsepa adalah rujaknya. Malam hari kita menikmati rujak dipinggir pantai Natsepa. Esok paginya kami ke Pantai Liang, Pantai Liang terletak di sebelah Timur Terminal Leihitu, berhadapan dengan Pulau Seram. Panorama di pantai ini sangatlah indah.

  

Di Desa Waai Serah dari Pantai Natsepa terdapat Belut Raksasa, Dikolam ini hidup sejumlah belut raksasa dengan panjang sekitar 1-1,5 meter. Belut ini akan keluar dari persembunyiannya di pinggir pinggir kolam apabila diberi umpan makanan. Pengunjungpun bisa berkesempatan untuk mengangkat belut yang cukup berat dan licin ini. Uniknya belut belut ini berinteraksi secara damai dengan penduduk sekitar. Banyak penduduk lokal yang memenfaatkan kolam tersebut untuk mencuci pakaian dan para belutpun tak merasa terganggu dengan aktifitas tersebut.




Pulau Tiga adalah tujuan kami selanjutnya, berada di Desa Asilulu terdapat tiga Pulau kecil di ujung-ujungnya. Mayoritas penduduknya bermatapencarian nelayan. Tebing curam menghiasi gugusan ketiga pulau, hamparan pasir putih, terdapat goa-goa laut yang tidak terlalu tinggi dan bisa dimasuki jika air laut surut. Lokasi pulau tiga merupakan lokasi bagus bagi yang suka snorkeling atoaupun diving.

 








Cerita ini hanya sebagian kecil dari keindahan yang ada di Maluku. Maluku memiliki potensi keindahan alam dan budaya yang sangat luar biasa. 

Just Remamber to always have time to enjoy your life. Go to Your happy place.



Sampai jumpa di perjalanan berikutnya

Thanks & Regards
Hira

*For more detail tentang itinerary atau budget bisa email saya yah.